Firman Creation

Asalamualaikum...wr...wb sblmnya mohon maaf atas pembuatn blog ini,,,,dalam mengikuti perkmbangan apa salahnya kita belajar dan belajar. Buat semuanya saya harapkan keritik dan sarannya.

Pages

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN

          Pembaruandalam Islam yang timbul pada periode sejarah Islam mempunyai tujuan, yakni membawa umat Islam pada kemajuan, baik dalam ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Perkembangan Islam dalam sejarahnya mengalami kemajuan dan juga kemunduran. Bab ini akan menguraikan perkembangan Islam pada masa pembaruan. Pada masa itu, Islam mampu menjadi pemimpin peradaban. Mungkinkah Islam mampu kembali menjadi pemimpin peradaban?
Dalam bahasa Indonesia, untuk merujuk suatu kemajuan selalu dipakai kata modern, modernisasi, atau modernisme. Masyarakat barat menggunakan istilah modernisme tersebut untuk sesuatu yang mengandung arti pikiran, aliran atau paradigma baru. Istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik oleh ilmu pengetahuan maupun tekhnologi.
A.Perkembangan Ajaran Islam, Ilmu Pengetahuan, dan kebudayaan
1.Pada bidang Akidah
Salah satu pelopor pembaruan dalam dunia Islam Arab adalah suatu aliran yang bernama Wahabiyah yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Pelopornya adalah Muhammad Abdul Wahab (1703-1787 M) yang berasal dari nejed, Saudi Arabia. Pemikiran yang dikemukakan oelh Muhammada Abdul Wahab adalah upaya memperbaiki kedudukan umat Islam dan merupakan reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam saat itu. Paham tauhid mereka telah bercampur aduk oleh ajaran-ajaran tarikat yang sejak abad ke-13 tersebar luas di dunia Islam
Disetiap negara Islam yang dikunjunginya, Muhammad Abdul Wahab melihat makam-makam syekh tarikat yang bertebaran. Setiap kota bahkan desa-desa mempunyai makam sekh atau walinya masing-masing. Ke makam-makam itulah uamt Islam pergi dan meminta pertolongan dari syekh atau wali yang dimakamkan disana untuk menyelesaikan masalah kehidupan mereka sehari-hari. Ada yang meminta diberi anak, jodoh disembuhkan dari penyakit, dan ada pula yang minta diberi kekayaan. Syekh atau wali yang telah meninggal. Syekh atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa untuk meyelesaikan segala macam persoalan yang dihadapi manusia di dunia ini. Perbuatan ini menurut pajam Wahabiah termasuk syirik karena permohonan dan doa tidak lagi dipanjatkan kepada Allah SWT
Masalah tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam . oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Muhammad Abdul Wahab memusatkan perhatiannya pada persoalan ini. Ia memiliki pokok-pokok pemikiran sebagai berikut.
  1. Yang harus disembah hanyalah Allah SWT dan orang yang menyembah selain dari Nya telah dinyatakan sebagai musyrik
  2. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Allah, melainkan kepada syekh, wali atau kekuatan gaib. Orang Islam yang berperilaku demikian juga dinyatakan sebagai musyrik
  3. Menyebut nama nabi, syekh atau malaikat sebagai pengantar dalam doa juga dikatakan sebagai syirik
  4. Meminta syafaat selain kepada Allah juga perbuatan syrik
  5. Bernazar kepada selain Allah juga merupakan sirik
  6. Memperoleh pengetahuan selain dari Al Qur’an, hadis, dan qiyas merupakan kekufuran
  7. Tidak percaya kepada Qada dan Qadar Allah merupakan kekufuran.
  8. Menafsirkan Al Qur’an dengan takwil atau interpretasi bebas juga termasuk kekufuran.
Untuk mengembalikan kemurnian tauhid tersebut, makam-makam yang banyak dikunjungi denngan tujuan mencari syafaat, keberuntungan dan lain-lain sehingga membawa kepada paham syirik, mereka usahakan untuk dihapuskan. Pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaruan di abad ke-19 adalah sebagai berikut.
  1. Hanya alquran dan hadis yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran Islam. Pendapat ulama bukanlah sumber
  2. Taklid kepada ulama tidak dibenarkan
  3. Pintu ijtihad senantiasa terbuka dan tidak tertutup
Muhammad Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-paham Muhammad Abdul Wahab tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak sehingga di tahun 1773 M mereka dapat menjadi mayoritas di Ryadh. Di tahun 1787, beliau meninggal dunia tetapi ajaran-ajarannya tetap hidup dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah.
2.Pada bidang Ilmu Pengetahuan
Islam merupakan agama yang sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Islam menghendaki manusia menjalankan kehidupan yang didasarkanpada rasioanlitas atau akal dan iman. Ayat-ayat Al Qur’an banyak memberi tempat yang lebih tinggi kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, Islam pun menganjurkan agar manusia jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya karena berapapun ilmu dan pengetahuan yang dimiliki itu, masih belum cukup untuk dapat menjawab pertanyaan atau masalah yang ada di dunia ini. Firman Allah SWT( lihat Al_qur’an )
Artinya : “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepada tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS luqman : 27)
Ajaran Islam tersebut mendapat respon yang positif dari para pemikir Islam sejak zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M) hingga periode modern (1800 m dan seterusnya). Masa pembaruan merupakan zaman kebangkitan umat Islam. Jatuhnya mesir ke tangan barat menynadarkan umat Islam bahwa di barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikirkan cara untul meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam. Pemikiran dan usaha pembaruan antara lain sebagai berikut.
a.Praperiode modern (1250-1800 M)
Sebenarnya pembaruan dan perkembangan ilmu pengetahuan telah dimulai sjak periode pertengahan, terutama pada masa kerajaan usmani. Pada abad ke-17, mulai terjadi kemunduran khusunya ditandai oleh kekalahan-kekalahan yang dialami melalui peperangan melawan negara-negara Eropa. Peristiwa tersebut diawali dengan terpukul mundurnya tentara usmani ketika dikirm untuk menguasai wina pada tahun 1683. kerajaan usmani menyerahkan Hungaria kepada Austria, daerah Podolia kepada Polandia, dan Azov kepada Rusia dengan perjanjian Carlowiz yang ditandatangani tahun 1699
Kekalahan yang menyakitkan ini mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan usmani mengadakan berbagai penelitian untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatikan kemajuan Eropa, terutama Prancis sebagai negara yang terkemuka pada waktu itu. Negara Eropa mulai mempunyai arti yang penting bagi cendikiawan atau pemuka-pemuka usmani. Orang-orang Eropa yang selama ini dipandang sebagai kafir dan rendah mulai dihargai. Bahkan, duta-dutapun dikirim ke Eropa untuk mempelajari kemajuan berbagai disiplin ilmu serta suasana dari dekat
Pada tahun 1720, Celebi Mehmed diangkat subagai duta di Paris dengan tugas khusu mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan, dan institusi-institusi lainnya serta memberi laporan tentang kemajuan tekhnik, organisasi angkatan perang modern, rumah sakit, observatorium, peraturan, karantina, kebun binatang, adat istiadat dan lain sebagainya seperti ia lihat di Perancis. Di tahun 1741 M anaknya, Said Mehmed dikirim pula ke paris
Laporan-laporan kedua duta ini menarik perhatian Sultan Ahmad III (1703-1730 M) untuk memulai pembaruan di kerajaan Usmani. Pada tahun 1717 M, seorang perwira Perancis bernama De Rochefart datang ke Istanbul dengan usul membentuk suatu korps artileri tentara Usmani berdasarkan ilmu-ilmu kemiliteran modern. Di tahun 1729, datang lagi seorang Perancis yakni Comte De Bonneval yang kemudia masuk Islam dengan nama baru Humbaraci Pasya. Ia bertugas melatih tentara usmani untuk memakai alat-alat (meriam) modern. Untuk menjalankan tugas ini, ia dibantu oleh Macarthy dari Irlandia, Ramsay dari Skotlandia dan Mornai dari Perancis. Atas usaha ahli-ahli Eropa inilah, taktik dan teknik militer ,odern pun dimasukkan ke dalam angkatan perang usmani. Maka pada tahun 1734 M, dibuka sekolah teknik militer untuk pertama kalinya.
Dalam bidang non militer, pemikiran dan usaha pembaruan dicetuskan oleh Ibrahim Mutafarrika (1670-1754 M). Ia memperkenalkan ilmu-ilmu pengetahuan modern dan kemajuan barat kepada masyarakat turki yang disertai pula oleh usha penerjemahan buku-buku barat ke dalam bahasa turki. Suatu badan penerjemah yang terdiri atas 25 orang anggota dibentuk pada tahun 1717 M
Sarjana atau filsuf Islam yang termasyur, baik didunia Islam atau barat ialah Ibnu Sina (1031 M) dan Ibnu Rusyd (1198 M). Dalam bidang seni atau syair, penyair persia Umar Khayam (1031 M) dan penyair lirik Hafiz (1389 M) yang dijuluki Lisan Al Gaib atau suara dari dunia gaib, sangat dikenal luas saat itu
b.Pembaruan pada periode modern (1800 M – dan seterusnya)
Kaum muslim memiliki banyak sekali tokoh – tokoh pembaruan yang pokok – pokok pemikirannya maupun jasa-jasanya di berbagai bidang telah memberikan sumbangsih bagi uamt Islam di dunia. Beberapa tokoh yang terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau pemikiran Islam tersebut antara lain sebagai berikut.
1)Jamaludin Al Afgani (Iran 1838 – Turki 1897)
Salah satu sumbangan terpenting di dunia Islam diberikan oleh sayid Jamaludin Al Afgani. Gagasannya mengilhami kaum muslim di Turki, Iran, mesir dan India. Meskipun sangant anti imperialisme Eropa, ia mengagungkan pencapaian ilmu pengetahuan barat. Ia tidak melihat adanya kontradiksiantara Islam dan ilmu pengetahuan. Namun, gagasannya untuk mendirikan sebuah universitas yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan modern di Turki menghadapi tantangan kuat dari para ulama. Pada akhirnya ia diusir dari negara tersebut.
2)Muhammad Abduh (mesir 1849-1905) dan Muhammad Rasyd Rida (Suriah 1865-1935)
Guru dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Rasyd Rida mendapat pendidikan Islam tradisional dan menguasai bahasa asing (Perancis dan Turki) yang menjadi jalan masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara umum. Oelh karena itu, tidak sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan pembaruan Al Afgani dan Muhammad Abduh di antaranya melalui penerbitan jurnal Al Urwah Al Wustha yang diterbitkan di paris dan disebarkan di Mesir. Muhammad Abduh sebagaimana Muhammad Abdul Wahab dan Jamaludin Al Afgani, berpendapat bahwa masuknya bermacam bid’ah ke dalam ajaran Islam membuat umat Islam lupa akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bid’ah itulah yang menjauhkan masyarakat Islam dari jalan yang sebenarnya.
3)Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)
Toha husein adalah seorang sejarawan dan filsuf yang amat mendukung gagasan Muhammad Ali Pasya. Ia merupakan pendukung modernisme yang gigih. Pengadopsian terhadap ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting dari sudut nilai praktis (kegunan)nya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu kebudayaan yang amat tinggi. Pandangannya dianggap sekularis karena mengunggulkan ilmu pengetahuan.
4)Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf Al Qardawi.
Al qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika modernisasi yang dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan modern serta penerapan tekhnologinya, Islam tidak menolaknya bahkan mendukungnya. Pandangan al qardawi ini cukup mewakili pandangan mayoritas kaum muslimin. Secara umum, dunia Islam relatif terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan tekhnologi sejauh memperhitungkan manfaat praktisnya. Pandangan ini kelak terbukti dan tetap bertahan hingga kini di kalangan muslim. Akan tetapi, dikalangan pemikir yang mempelajari sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan, gagasan seperti ini tidak cukup memuaskan mereka.
5)Sir Sayid Ahmad Khan (india 1817-1898)
Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan mengenai suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman kekuasaan gereja. Kini, dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an
6)Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873-1938)
Generasi awal abad ke-20 adalahSir Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim pertama di anak benua India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Kedua hal ini muncul dari karya utamanya di tahun 1930 yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Melalui penggunaan istilah recontruction, ia mengungkapkan kembali pemikiran keagamaan Islam dalam bahasa modern untuk dikonsumsi generasi baru muslim yang telah berkenalan dengan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan filsafat barat abad ke-20
B.Perkembangan Kebudayaan pada masa Pemabaharuan
Bangsa Turki tercatat dalam sejarah Islam dengan keberhasilannya mendirikan dua dinasti yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Dinasti Turki Usmani. Di dunia Islam, ilmu pengetahuan modern mulai menjadi tantangan nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon Bonaparte menduduki Mesir pada tahun 1798 dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam menjadi wilayah jajahan atau dibawah pengaruh Eropa.akhirnya serangkaian kekalahan berjalan hingga memuncak dengan jatuhnya dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama disebabkan oleh kemjuan tekhnologi barat. Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan peranan penting dalam kampanye militer melawan Perancis. Ia diangkat oleh pengusaha Usmani menjadi Pasya pada tahun 1805 dan memerintah Mesir hingga tahun 1894
Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan. Akan tetapi, saat itu terdapat kontroversial percetakan pertama yang didirikan di Mesir ditentang oleh para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit babi. Muhammad Ali Pasya mendirikan beberapa sekolah tekhnik dengan guru-gurunya dari luar negaranya. Ia mengirim lebih dari 4000 pelajar ke Eropa untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Kebudayaan turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tatakrama kehidupan kerajaan atau organisasi pemerintahan. Prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari Bizantium, sedangkan dari Arab, mereka mendapat ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan, dan ilmu pengetahuan.
Orang-orang Turki Usmani dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa lain dan bersikap terbuka terhadap kebudayaaan luar. Para ilmuwan ketika itu tidak menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah seperti masjid Sultan Muhammad Al Fatih, masjid Sulaiman, dan masjid Abu Ayub Al Ansari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang awalnya berasalh dari gereja Aya Sophia.
Islam dan kebudayaannya tidak hanya merupakan warisan dari masa silam yang gemilang, namun juga salah satu kekuatan penting yang cukup diperhitungkan dunia dewasa ini. Al Qur’an terus menerus dibaca dan dikaji oleh kaum muslim. Budaya Islam pun tetap merupakan faktor pendorong dalam membentuk kehidupan manusia di permukaan bumi.
Toleransi beragama merupakan salah satu kebudayaan Islam dan tidak ada satupun ajaran Islam yang bersifat rasialisme. Dalam hal ini, agama yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad mengandung amanat yang mendorong kemajuan bagi seluruh umat manusia, khusunya umat Islam di dunia.
C.Manfaat Sejarah Islam pada Masa Pembaruan
1.Sejarah dikemukakan dalam Al Qur’an sebagai kisah atau peristiwa yang dialami umat manusia di masa lalu. Orang yang tidak mau mengambil hikmah dari sejarah mendapat kecaman karena mereka tidak mendapat pelajaran apapun dari kisah dalam Al Qur’an. Melalui sejarah, kita dapat mencari upaya antisipasi agar kekeliruan yang mengakibatkan kegagalan di masa lalu tidak terulang di masa yang akan datang.
2.Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah dapat menjadi pilihan ketika mengambil sikap. Bagi orang yang mengambil jalan sesuai dengan ajaran dan petunjuk Nya, orang tersebut akan mendapat keselamatan
3.pembaruan akan memberi manfaat berupa inspirasi unutk mengadakan perubahan-perubahan sehingga suatu pekerjaan akan menajdi lebih efektif dan efisien
4.dalam sejarah, dikemukakan pula masalah sosial dan politik yang terdapat di kalangan bangsa-bangsa terdahulu. Semua itu agar menjadi perhatian dan menjadi pelajaran ketika menghadapi permasalahan yang mungkin akan terjadi
5.pembaruan mempunyai pengaruh besar pada setiap pemerintahan. Sebagai contoh, pada zaman Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19. oleh karena itu, dibuatlah pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan yang memasukkan unsur ilmu pengetahuan umum ke dalam sistem pendidikan negara tersebut.
6.corak atau bentuk negara dianggap kalangan tertentu bukan persoalan agama, tetapi persoalan duniawi sehingga hal tersebut diserhakan kepada manusia untuk menentukannya. Hal seperti ini dilakukan oleh Mustafa Kemal Pasya dalam menghapus sistem kekhilafan dari kerajaan Usmani.
D.Perilaku Cerminan Penghayatan terhadap Sejarah Islam pada Masa Pembaruan
Ada beberapa perlaku yang dapat dijadikan cerminan terhadap penghayatan akan sejarah perkembangan Islam pada masa pembaruan ini. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Menyikapi kejadian masa lalu dengan sikap sabar dan menanamkan jihad yang sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan hadis
  2. Sejarah dapat dijadikan sumber inspirasi untuk membuat langkah-langakah inovatif agar kehidupan menusia dapat damai dan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat.
  3. Memotivasi diri terhadap masa depan agar memperoleh kemajuan serta mengupayakan agar sejarah yang mengandung nilai negatif atau kurang baik tidak akan terualng kembali.
  4. Membangun masa depan berdasarkan pijakan-pijakan yang telah ada di masa lalu sehingga dapat membangun negara senantiasa menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun gafur atau negara yang baik dan mendapat ampunan dari Allah SWT
  5. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi di masa pembaruan cukup canggih dan menakjubkan sehingga melalui proses belajar akan dapat diperoleh kemajuan yang lebih baik bagi gemerasi-generasi muslim di masa depan.
E.Pengaruh Perkembangan Dunia Islam terhadap Umat Islam di Indonesia
Pembaruan di negara-negara timur tengah tidak hanya tersebar di lingkungan mereka sendiri, namun juga meluas hingga ke Indonesia. Pengaruh-pengaruh dari pembaruan tersebut antara lain sebagai berikut.
  1. Gema pembaruan yang dilakukan oleh Jamaludin Al Afgani an syekh Muhammadn Abdul Wahhab sampai juga ke Indonesia, terutama terhadap tokoh-tokoh seperti Haji Muhammad Miskin (Kabupaten Agam, Sumatera Barat), Haji Abdur Rahman (Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat), dan Haji Salman Faris (Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat). Mereka dikenal dengan nama Haji Miskin, Haji Pioabang dan Haji sumaniik. Sepulang dari tanah suci, mereka terilhami oleh paham syekh Muhammad Abdul Wahhab. Mereka pulang dari tanah suci pada tahun 1803 M dan sebagai pengaruh pemikiran para pembaru timur tengah tersebut adalah timbulnya gerakan paderi. Gerakan tersebut ingin membersihkan ajaran Islam yang telah bercampur-baur dengan perbuatan-perbuatan yang bukan Islam. Hal ini menimbulkan pertentangan antara golongan adat dan golongan Paderi.
  2. Pada tahun 1903 M murid-murid dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, seorang ulama besar bangsa Indonesia di makkah yang mendapat kedudukan mulia di kalangan masyarakat dan pemerintahan Arab, kembali dari tanah suci. Murid-murid dari syekh ahmad inilah yang menjadi pelopor gerakan pembaruan di minangkabau dan akhirnya berkembang ke seluruh Indonesia. Mereka antara lain sebagai berikut : Syekh Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), Syekh Daud Rasyidi, Syekh Jamil Jambik dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah)
  3. Munculnya berbagai organisasi dan kelembagaan Islam modern di Indonesia pada awal abad ke-20, baik yang bersifat keagamaan, politik maupun ekonomi. Organisasi tersebut ialah sebagai berikut.
a.Jamiatul Khair (1905 M) yang merupakan wadah lembaga pendidikan dan pengkaderan generasi muda penerus perjuangan Islam dan berlokasi di Jakarta
b.Muhammadiyah (18 November 1912) yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan. Ia memiliki pemikiran yang tidak menghendaki berkembangnya bid’ah, tahayul kurafat dan mengembalikan ajaran Islam yang sesuai dengan Al Qur’andan hadis di Yogyakarta
c.Al Irsyad (1914 M) dibawah pimpinan Ahmad Sukarti dan bertempat di Jakarta.
d.Persatuan Islam (persis)dibawah pimpinan Ahmad Hasan yang didirikan tahun 1923 di Bandung. Al Irsyad dan Persis memiliki bentuk gerakan yang hampir sama dengan Muhammadiyah.
e.Seriakt Dagang Islam (1911) di bawah pimpinan Haji Samanhudi di Solo. Pada awalnya gerakan tersebut bersifat ekonomi dan keagamaan. Akan tetapi kemudian berubah menjadi kegiatan yang bersifat politik. Terjadi perubahan kembali menjadi Partai Serikat Islam dan pada tahun 1929 kembali berubah menjadi PSII (partai Serikat Islam Indonesia).
f.Jamiyatul Nahdatul Ulama (NU) yang lahir 13 Januari 1926 di surabaya di bawah pimpinan KH Hasym Asyari. Nahdatul Ulama merupakan wadah para ulama di dalam tugas memimpin masyarakat muslim menuju cita-cita kejayaan Islam. Gerkannya kemudian juga berubah ke arah politik
g.Matla’ul Anwar (1905) di Menes, Banten yang didirikan oleh KH M. Yasin. Organisasi ini bersifat sosial keagamaan dan pendidikan.
h.Pergerakan Tarbiyah (Perti) di Sumatera Barat yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Ar Rasuli pada tahun 1928. organisasi ini bergerak di bidang pendidikan, membasmi bid’ah, khurafat dan tahayul serta taklid di kalangan umat Islam
i.Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang didirikan pada tanggal 22 mei 1930 di bukit tinggi. Organisasi ini pada mulanya bersifat keagamaan, tetapi kemudian menjadi partai politik yang menuntut kemerdekaan Indonesia. Pemimpinnya adalah Muchtar Lutfi
j.Majlis Islam ‘Ala Indonesia yang didirikan atas prakarsa KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur pada tahun 1937. pada mulanya organisasi ini tidak terlibat pada kegiatan politik, tapi pada akhirnya terlibat pula dalam politik praktis yaitu dengan melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gerakan pembaruan yang menyebabkan lahirnya organisasi keagamaan pada mulanya bersifat keagamaan, tetapi seiring dengan kondisi masyarakat pada saat itu kemudian menjelma menjadi kegiatan politik yang menuntut kemerdekaan Indonesia dan hal tersebut dirasakan mendapat pengaruh yang signifikan dari pemikir-pemikir para pembaru Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Posted by Bustamam Ismai

Asmaul-Husna dalam Kitab Tarmidzi

Asmaul-Husna dalam Kitab Tarmidzi
oleh Mirza Tahir Ahmad
fatinaliah.fotopages.com

Disebutkan dalam Tirmidzi, kitabud da'wat mengenai nama-nama Allah. Dinyatakan bahwa siapa yang telah melingkupi (memahami/ memperagakan) nama-nama itu dia telah masuk dalam surga. Yaitu, “Huwa Allah, al- ladziy laa ilaaha illaa Huwa Al-Rahmaan, Al- Rahiim, Al-Malik, Al-Qudduus, Assalaam, Al-Mukmin, Al-Muhaimin, Al-‘Aziiz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Khaliq, Al-Baari', Al- Mushowwir- Al-Ghoffar, Al-Qohhar, Al-Wahhaab, Ar-Rozzaaq, Al- Fattaah, Al-‘alim, Al-Qabidh, Al-Basith, Al-Hafizh, Ar-Rafi’, Al-Mu’ iz, Al-Muzil, Assami’, Al-Bashir, Al-Hakam, Al-‘Adl, Al-Latif, Al- Khabir, Al-Halim, Al- ‘Azhim, Al-Ghofuur, Asy Syakur, Al Aliyy, Al- Kabir, Al-Hafis, Al-Muqit, Al-Hasib, Al-Jalil, Al-Karim, Ar- Raqib, Al- Mujib, Al-Wasi’, Al-Hakim, Al-Waduud, Al-Majid, Al-Ba’is, Asy- Syaahid, Al-Haqq, Al-Wakil, Al-Qawi, Al-Matin, Al-Waliyy, Al-Hamid, Al-Muqsi, Al-Mubdi, Al-Mu’id, Al-Muhyi, Al-Mumit, Al-Hayyul- qayyum, Al-Wajid, Al-Majid, Al-Wahid, Al-Ahad, Al-Shamad, Al- Qadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim, Al-Mu’akhkhir, Al-Awwal, Al- Akhir, Al-Zahir, Al-Bathin, Al-Wali, Al-Muta’ali, Al-Barr, At- Tawwaab, Al-Muntaqim, Al-‘Afuw, Al-Ra’uf, Al-Malikul-mulk, Dzul- Jalaali wal- ikram, Al-Muqsit, Al-Jami’, Al-Ghani, Al-Mughni, Al- Maani’, Ad- Dar, An-Nafi’, An-Nuur, Al-Haadi, Al-Baadi', Al-Baqi, Al-Warits, Al-Rasyid, Al-Shobuur.”

Inilah 99 nama yang diambil dari At- Tirmidzi, kitabudda’wat. Dari ini banyak nama-nama (sifat-sifat) yang seorang hamba sampai batas tertentu dapat melingkupinya tetapi ada pula [sifat-sifat] yang tidak bisa dilingkupi (ditiru), dan itu disebut sifat tanzihi (sifat khusus milik Allah Ta’ala). Sebagai contoh, misalnya Al-Awwal, manusia jelas tidak bisa menjadi awwal. Setiap orang mempunyai satu masa lampau, setiap yang bernyawa mempunyai masa lampau, dan setiap zat (benda) ada masa lalunya. Jadi, awwal hanya Zat Tuhan, yang dari itu semua sifat zahir (keluar/muncul). Demikian juga Al Akhir pun manusia tidak bisa, tetapi dari akhirin (orang- orang yang datang akhir) bisa, namun menjadi yang akhir tidak bisa, karena sesudahnya ke depan dunia terus berjalan. Dengan demikian sifat Tuhan sebagian kita bisa terapkan (ditiru) dalam zat kita, dan dengan cara adil dan tulus menirunya. Misalnya, Rabb (Pengayom) Allah adalah Rabb, kita jelas tidak bisa menjadi Rabb, akan tetapi dari Rabbubiyyat-Nya pasti kita mendapat bagian ( sampai batas tertentu dapat memperagakannya). Tuhan adalah Ar Rahmaan (Yang Maha Pemurah/Pengasih) maka kita semaksimal ( sampai batas tertentu) dapat berlaku kasih sayang kepada hamba- hamba Allah, namun dalam arti sepenuhnya kita tidak bisa melakukannya.

Jadi, dengan merenungkan sifat Tuhan Saudara-saudara akan mendapatkan topik bagaikan samudera yang tidak bertepi. Dan dalam bentuk melingkupinya, apa maksudnya? Sampai dimana Saudara-saudara dapat mengambil faedah dari lautan itu? Keterangan itu pun terdapat juga dalam kata-kata Rasulullah saw. Maka terjemah yang diterangkan dalam hadits Abu Hurairah bersabda:

”Isim Zat Allah, Allah mempunyai nama 99 . Allah, Dia jadikan sebagai yang melingkupi semua nama-nama itu”, yakni telah menerangkannya dan nama yang 99 itu adalah selain Allah. Seolah-olah berikut (beserta) Allah ada 100 nama. “Siapa yang memperhatikan itu dalam kehidupan dan berusaha menjadikan itu sebagai mazhabnya maka dia akan masuk di dalam surga.

Nama-nama tersebut Rasulullah saw. dengan cara ini menghitungnya: “Allah Swt yang tidak ada sembahan selain Dia, Dia Menganugerahi tanpa meminta, Maha Pengasih, Raja, Bersih dari semua aib/kekurangan-kekurangan. Bersih/suci, Menjaga dari semua bahaya, Yang Memberi keamanan, Yang Menjaga dari semua kehancuran, Menang, Yang Menutupi semua kerugian, Yang mempunyai kebesaran, Al- Ghalib (Yang menang)” -- mempunyai pemerintahan juga, namun kemenangannya merupakan kemenangan yang bersifat sementara, hari ini datang dan besok pergi, tidak ada hakekat apa-apa. Dia Yang Ghalib/Pemenang dan selalu menjadi pemenang itu hanyalah Allah. Orang-orang selalu juga berusaha menutupi kekurangan, namun tidak bisa menutupi semua kekurangan. Misalnya, ada seseorang yang matanya hilang, ada orang yang kaki tangannya hilang, maka manusia sampai batas mana bisa menutupi. Dengan berbagai cara secara sukarela dia akan berusaha memberikan ketenteraman padanya, namun dia tidak akan bisa menggantinya menutupi kekurangan itu. Jika Tuhan menghendaki maka secara sempurna Dia dapat menggantinya. Kadang-kadang Dia melakukan dan kadang-kadang tidak. melakukan. Namun Dia adalah Malik (Pemilik) itu terserah Dia, jika Dia menghendaki maka Dia bisa menggantinya.

Selanjutnya beliau saw. bersabda, ”Yang Memberikan keamanan, Yang Menjaga dari semua kerusakan, Yang mengganti semua kerugian, Yang Mempunyai kebesaran, Yang Menciptakan, Menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada, Yang Memberi bentuk ( Al-Musawwir)” --

yakni Tuhan sebelum kejadian (kelahiran) segala sesuatu Dia telah meletakkan di otak-Nya “blue print”-nya ( rancangan-Nya), yakni apabila kita mengatakan “otak” Tuhan bukanlah maksudnya seperti otak kita, bahkan maksudnya adalah ada dalam “pengetahuan Tuhan” dan selama benda itu belum siap dalam “cetakan biru”-nya (rancangannya) untuk seterusnya tidak akan bisa jadi. Oleh karena itu Tuhan telah telah menggambar ( merancang) segala sesuatu. Dari segi ini Dia disebut Mushawwir.

Bersabda lagi, “Yang Menutupi (Menutupi semua aib), Mempunyai kemenangan Yang sempurna, Yang Menganugerahi tanpa menghitung-hitung, Yang Menganugerahi rezeki, Yang memudahkan kesulitan, Mengetahui segala sesuatu, Yang Mencegah, Yang Menciptakan kemudahan, Yang mengebawahkan (menjatuhkan), Yang Meninggikan, Yang Menganugerahi kehormatan, Yang Menghinakan, Yang Mendengarkan, Yang Melihat, Yang Memberikan keputusan, Yang adil, Yang Berpandangan luas, Yang Mengetahui, Maha Lembut, Yang mempunyai keagungan, Yang menutupi kelemahan, Yang Menghargai, Berkedudukan tinggi, Maha Agung, Menjaga semua, Yang Menghisab kitab, Yang Mempunyai kebesaran yang agung, Yang Maha Mulia, Yang Menjaga, Yang Mengabulkan, Yang menganugerahi keluasan, dan Yang Maha luas, Maha bijaksana, Yang sangat Mencintai, Yang Mempunyai kemuliaan, Yang Menganugerahi kehidupan yang kedua kali, Yang Melihat segala sesuatu, Yang selalu sempurna keahliannya, Yang Mencukupi, Yang Mempunyai kekuatan, Yang Mempunyai kekuasaan, Yang Menolong, Layak Dipuji, Yang Menghitung, Yang Menciptakan pertama kali, kemudian Yang Menciptakan untuk kedua kali, Yang Menganugerahi kehidupan, Yang Mematikan, Yang Hidup sendiri, Berdiri sendiri, Tidak bergantung pada siapapun, Yang Mempunyai kemuliaan, Esa, tidak ada sekutu, Yang butuh pada siapapun, Yang mempunyai kekuasaan, Yang mempunyai kekuasaan, Yang Mengedepankan, Yang Membelakangkan, Yang Pertama, Yang akhir, Zahir, Bathin ( tersembunyi), Yang Memiliki, Yang Berkuasa, Maha Tinggi, Yang Menghargai kebaikan, Yang Menerima taubah, Yang menuntut balas, Yang Memaafkan, Yang Memperlalukan dengan lemah lembut, Yang Mempunyai kerajaan, yang Mempunyai kekeramatan, Yang adil, Yang Mempersatukan, Yang Berdiri sendiri, Yang Menjadikan orang tidak membutuhkan kepada siapapun, Yang Mencegah, Yang Memiliki dada (Yang Berlapang dada), Yang memberi manfaat, Yang sepenuhnya Nur (Cahaya) Yang memberi Petunjuk, Yang menemukan sesuatu yang selalu baru, Yang kekal, Yang memang Memiliki, Pemimpin, Lambat dalam Memberikan hukuman”.

Nama-nama tersebut adalah dari At- Tirmidzi, kitabud- da’wat. 2
Terjemahannya kami sendiri yang menterjemahkan, namun yang asal adalah yang bahasa Arab yang telah saya terangkan. Dan Saudara-saudara dapat melihat, betapa hanya untuk membaca sifat- sifat ini saja sudah cukup banyak waktu yang sudah habis (tersita). Dan oleh sayapun terfikir juga bahwa note (catatan) yang saya siapkan untuk hari ini apakah dapat saya penuhi [ataukah tidak?], karena banyak penjelasan-penjelasan yang terpaksa kita terangkan secara beriringan, dan memang hendaknya dilakukan seperti itu, karena orang-orang umum tidak akan bisa mengerti selama belum diberi penjelasan.

KISAH KUCING KESAYANGAN NABI MUHAMMAD SAW, DAN KEISTIMEWAAN KUCING DALAM ISLAM



Didalam perkembangan peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan islam.

Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.



Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.

Penghormatan para tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW.
Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.

Pengaruh Kucing dalam Seni Islam.
Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.

Kucing yang memberi inspirasi bagi para sufi.
Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.

Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah.

Cerita yang dijadikan sebagai sauri tauladan
Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran.

Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu.

Tak lama kemudian, ia kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah mebunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun.

Hukum membunuh kucing
Tahukah agan Nabi Muhammad saw juga membela kucing? Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah. (Shahih Muslim No.4160) dan Dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar[1] dan Abu Hurairah.[2]

Adakah manfaat kucing bagi dunia ilmu pengetahuan?
Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini. Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.

Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat terselamatkan.

Kucing “Muqawwamah”: Kucing Palestina yang Dipenjara di Sel Khusus Israel
Jika boleh iri, kaum muslimin mungkin harus iri kepada kucing Palestina. Pasalnya, ditengah ketidakmampuan kita ikut membela saudara-saudara kita di Palestina yang kini sedang berjuang mempertahankan Masjidil Aqsha dari ancaman israel, justru seekor kucing tampil sebagai pahlawan. Kucing itu dinilai zionis-israel dapat membangkitkan perlawanan (muqawwamah).

Sebagaimana dikutip situs www.maannews.net, zionis-israel telah memenjarakan seekor kucing Palestina. Kucing ini dinilai menjadi penghubung di sel isolasi di kamp tahanan pejuang-pejuang Palestina di Negev.
Menurut pejabat israel, kucing tersebut membantu para tahanan dengan membawa barang-barang ringan seperti surat, roti dan lainnya dari satu sel ke sel lain. Peran itu dimainkan si kucing selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya ketahuan.

Penjaga penjara Negev lalu menjebloskan kucing itu ke dalam sel khusus. Nah, siapa bersedia menjenguk kucing yang pintar ini? Adakah kira-kira pengacara dermawan yang akan membelanya?
Cholis Akbar/Suara Hidayatullah

Islam, Sains dan Teknologi


Islam, Sains dan Teknologi


Di antara hal yang di anggap modern di era ini adalah sains dan teknologi. Sains dan teknologi mengalami perkembangan yang begitu pesat bagi kehidupan manusia. Dalam setiap waktu para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi simbol kemajuan dan kemodernan pada abad ini. Oleh karena itu, apabila ada suatu bangsa atau negara yang tidak mengikuti perkembangan sains dan teknologi, maka bangsa atau negara itu dapat dikatakan negara yang tidak maju dan terbelakang.
Kembali ke topik Islam terkait dengan masalah sains dan teknologi. Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk me-research dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini Allah anugerahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Pandangan Islam tentang sains dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Isra: 1-5)
Menurut seorang pakar tafsir kontemmporer asal Indonesia, Prof. Dr. Quraisy Syihab, ‘iqra’ terambil dari kata menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.[1] Dalam ayat yang lain, Allah SWT memuji kepada hambanya yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bahkan banyak pula ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk meneliti dan memperhatikan alam semesta.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Imran: 190-191)
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (QS. Asy-Syu’ara: 7)
Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus: 101)
Ayat-ayat di atas adalah sebuah support yang Allah berikan kepada hambanya untuk terus menggali dan memperhatikan apa-apa yang ada di alam semesta ini. Makanya seorang ahli sains Barat, Maurice Bucaile, setelah ia melakukan penelitian terhadap al-Qur’an dan Bibel dari sudut pandang sains modern. Ia mengatakan:
“Saya menyelidiki keserasian teks Qur’an dengan sains modern secara obyektif dan tanpa prasangka. Mula-mula saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa Qur’an menyebutkan bermacam-macam fenomena alamiah, tetapi dengan membaca terjemahan itu saya hanya memperoleh pengetahuan yang sama (ringkas). Dengan membaca teks arab secara teliti sekali saya dapat mengadakan inventarisasi yang membuktikan bahwa Qur’an tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern.”[2]
Jika sains dan teknologi ini ditelusuri kembali ke masa-masa pertumbuhannya, hal itu tidak lepas dari sumbangsih para ilmuwan muslim. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa asal-usul sains modern atau revolusi ilmiah berasal dari peradaban Islam. Memang sebuah fakta, umat Islam adalah pionir sains modern. Jikalau mereka tidak berperang di antara sesama mereka, dan jika tentara kristen tidak mengusirnya dari Spanyol, dan jika orang-orang Mongol tidak menyerang dan merusak bagian-bagian dari negeri-negeri Islam pada abad ke-13, mereka akan mampu menciptakan seorang Descartes, seorang Gassendi, seorang Hume, seorang Cupernicus, dan seorang Tycho Brahe, karena kita telah menemukan bibit-bibit filsafat mekanika, emperisisme, elemen-elemen utama dalam heliosentrisme dan instrumen-instrumen Tycho Brahe dalam karya-karya al-Ghazali, Ibn al-Shatir, para astronom pada observatorium margha dan karya-karya Takiyudin.[3]
Peradaban Islam pernah memiliki khazanah ilmu yang sangat luas dan menghasilkan para ilmuwan yang begitu luar biasa. Ilmuwan-ilmuwan ini ternyata jika kita baca, mempunyai keahlian dalam berbagai bidang. Sebut saja Ibnu Sina. Dalam umurnya yang sangat muda, dia telah berhasil menguasai berbagai ilmu kedokteran. Mognum opusnya al-Qanun fi al-Thibmenjadi sumber rujukan primer di berbagai universitas Barat.
Selain Ibnu Sina, al-Ghazali juga bisa dibilang ilmuwan yang refresentatif untuk kita sebut di sini. Dia teolog, filosof, dan sufi. Selain itu, dia juga terkenal sebagai orang yang menganjurkan ijtihad kepada orang yang mampu melakukan itu. Dia juga ahli fiqih. Al-Mushtasfa adalah bukti keahliannya dalam bidang ushul fiqih. Tidak hanya itu, al-Ghazali juga ternyata mempunyai paradigma yang begitu modern. Dia pernah mempunyai proyek untuk menggabungkan, tidak mendikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Baginya, kedua jenis ilmu tersebut sama-sama wajib dipelajari oleh umat Islam.
Selain para ilmuwan di atas, Ibnu Rusyd layak kita sebut di sini. Dia filosof ulung, teolog dan menguasai kedokteran. Bahkan dia juga bisa disebut sebagai faqih. Kapabalitasnya dalam bidang fiqih dibuktikan dengan karya tulisnya Bidayah al-Mujtahid. Filosof ini juga menjadi inspirasi gerakan-gerakan di Barat. Tidak sedikit ideologinya yang diadopsi oleh orang Barat sehingga bisa maju seperti sekarang.
Ilmuwan lainnya seperti Fakhruddin al-Razi, selain seorang teolog, filosof, ahli tafsir, dia juga seorang yang menguasai kedokteran. Al-Khawarizmi, Matematikawan dan seorang ulama. Dan masih banyak lagi para ulama sekaligus ilmuwan yang dihasilkan dari Peradaban Islam. Semua itu menunjukkan, bahwa suatu peradaban bisa maju dan unggul, meskipun tetap dilandasi oleh agama dan kepercayaan terhadap Tuhan (Allah SWT).
Adapun kondisi umat Islam sekarang yang mengalami kemunduran dalam bidang sains dan teknologi adalah disebabkan oleh berbagai hal. Sains Islam mulai terlihat kemunduran yang signifikan adalah selepas tahun 1800 disebabkan faktor eksternal seperti pengaruh penjajahan yang dengan sengaja menghancurkan sistem ekonomi lokal yang menyokong kegiatan sains dan industri lokal. Contohnya seperti apa yang terjadi di Bengali, India, saat sistem kerajinan industri dan kerajinan lokal dihancurkan demi mensukseskan ‘revolusi industri” di Inggris.
Sains dan teknologi adalah simbol kemodernan. Akan tetapi, tidak hanya karena modern, kemudian kita mengabaikan agama sebagaimana yang terjadi di Barat dengan ideologi sekularisme. Karena sains dan teknologi tidak akan pernah bertentangan dengan ajaran Islam yang relevan di setiap zaman.
[1] Prof. Dr. Quraisy Syihab, Wawasan al-Qur’an,
[2] Maurice Buccaile, La Bible Le Coran Et Le Science, terj. Bible, Qur’an dan Sains Modern oleh H.M. Rasjidi, Jakarta: Bulan Bintang, hal. 10.
[3] Majalah Islamia, Thn. I, No. 4, Artikel Prof. Dr. Cemil Akdogan.

Ilmu Pengetahuan, Institusi Pendidikan, dan Perpustakaan dalam Islam : Penerbitan Buku dan Pembuatan Kertas


Sardar dan Davies menulis dalam bukunya "Distorted Imagination" : Pesatnya industri penerbitan buku di Dunia Barat benar-benar sangat mengagumkan dan pastinya juga sangat berharga. Namun pencapaian mereka terkini tidak dapat menyamai kehebatan, kompleksitasnya dan luasnya penyebaran publikasi yang pernah berkembang pada peradaban Dunia Islam sekitar abad ke delapan. Hampir seribu tahun kemudian baru akhirnya jumlah buku yang diterbitkan oleh Dunia Barat menyamai jumal buku yang Dunia Muslim pernah terbitkan sebelumnya. Industri publikasi yang demikian pesatnya kala itu masih berjalan ketika barat mulai mengakupasi tanah-tanah Orang Islam, namun secara sistematis dihancurkan oleh kekuatan kolonial, bersama-sama dengan sistem pendidikan dan kesehatan serta intitusi kebudayaan muslim lainnya. (Z. Sardar and M.W. Davies: Distorted Imagination; London: Grey Seal Books, 1990, pp. 96-7 )
Dunia Islam tidak melulu seperti apa yang kita saksikan saat ini. Sekitar sepuluh abad lampau, seperti yang pernah digambarkan oleh Scott (S. P. Scott: History of the Moorish Empire in Europe; Philadelphia and London: J. B. Lippincott Company, 1904, vol 3; p. 522.) : "Perbedaan yang sangat antara dunia intelektual masyarakat Islam dan Kristen sangat mencolok terlihat. Perpustakaan Monstandir, Sultan penguasa Mesir, memiliki delapan puluh ribu volume buku, sementara itu perpustakaan Fathimiyyah di Kairo, sejuta volume; dan di Tripoli, dua ratus ribu volume. Ketika Bangsa Mongol menghancurkan Baghdad di Abad ke tiga belas buku-buku yang dibuang ke dalam sungai Tigris, yang lebarnya kira-kira 400 meter, sampai menutupi permukaannya dan membuat aliran sungainya menjadi hitam akibat tinta-tinta yang luntur. Sementara sisanya yang tidak terbuang ke dalam sungai ikut hancur dimakan api bersama dibakarnya gedung-gedung perpustakaan di Baghdad. Kembali ke perpustakaan peradaban Islam; Jumlah perpustakaan umum ketika Andalusia, Spanyol masih dikuasai kekhalifahan Islam adalah tujuh puluh dengan masing-masing perpustakaan memiliki koleksi buku yang sangat besar. Ibnu al Matharan dokter pribadinya Salahuddin bahkan memiliki sekitar sepuluh ribuan manuskrip, di dalam rak bukunya Dunasch Ben Tamin seorang Yahudi dan ahli bedah terkenal di Kairo terdapat dua puluh ribuan manuskrip. Empat abad kemudian pada Dunia Barat, tidak termasuk koleksi di dalam biara-biara, perpustakaan Kerajaan Prancis memiliki sembilan ratus volume, yang mana dua pertiganya buku-buku teologi; dengan subjek yang terbatas pada tata-cara seremoni keagamaan, keajaiban orang-orang suci, tugas dan kewajiban petinggi-petinggi gereja".
Mackensen dan Pinto (O. Pinto: `The Libraries of the Arabs during the time of the Abbasids,' in Islamic Culture 3 (1929), pp. 211-43) menulis secara mendalam tentang perpustakaan Islam pada masa keemasaannya dengan mengkhususkan peran dan posisi mereka pada peradaban Muslim. Demikan meluasnya koleksi perpustakaan umum hingga saat itu hampir-hampir tidak mungkin menemukan masjid atau institusi pendidikan atau sejenisnya sepanjang kekhalifahan Muslim tanpa melihat buku-buku yang disusun rapih pada ruang baca (A. Shalaby: History of Muslim Education: Dar Al Kashaf; Beirut; 1954; p 95). Baghdad, misalnya, sebelum penaklukan oleh Bangsa Mongol, memiliki tiga puluh enam perpustakaan umum dan lebih dari seratus toko buku, yang beberapanya juga sekaligus sebagai penerbit dan memperkerjakaan sejumlah penyalin buku/manuskrip (saat itu belum ditemukan mesin cetak untuk menggandakan buku-buku hingga tugas penggandaan dilakukan dengan menulis kembali oleh penyalin). (J.W. Thompson: The Medieval library, Hafner Publishing Co., 1957, p. 351). Di Merw, Persia Timur, sekitar 612-614 Hijirah atau 1216-1218 Masehi, terdapat sepuluh perpustakaan, dua diantaranya terdapat di masjid agung dan sisanya terletak di sekolah-sekolah atau saat itu dikenal dengan madrasah (Yaqut: Mu'jam in J. Pedersen, The Arabic Book, translated by G. French, Princeton-New Jersey: Princeton University Press, 1984, p. 128). Sedangkan di Marrakesh (Marrakech) Barat Daya Maroko, sebuah masjid dinamakan Kutubya karena sekitar dua ratus "kutubiya" atau penjual buku berkumpul di sekitar masjid yang dibangun oleh penguasa dinasti Almohad; Abdul al Mumin (R. Landau: Morocco: Elek Books Ltd, London 1967. p.80). Di Spanyol saja, saat Islam berkuasa, memiliki tujuh puluh perpustakaan umum (G. Le Bon: "La Civilisation des Arabes", IMAG, Syracuse, 1884, p. 343). Banyak lagi perpustakaan-perpustakaan serupa yang terdapat di Kairo, Aleppo dan kota-kota besar Iran, Asia Tengah dan Mesopotamia (Z. Sardar and M.W. Davies: Distorted Imagination; op cit; pp. 101). Abdul al-Daula pada 372 Hijirah / 983 Masehi membangun perpustakaan di Shiraz, yang digambarkan oleh al-Muqqadasi sebagai berikut :
Sebuah komplek dengan bangunan-bangunan yang dikelilingi taman, danau-danau dan jalur air. Gedung-gedung tersebut beratapkan kubah, total memiliki 360 ruangan. Dalam setiap ruangan katalog ditempatkan dalam rak-rak dan setiap ruangan dihiasi dengan karpet. (Al-Muqaddasi, Shams Al-Din Mohammad Ibn Ahmad, Kitab Ahsan al-taqasim fi ma'rifat al-aqalim, edited by M.J. de Goeje, 1877, 2nd edition, 1906, p. 449)
Sebagai tambahan perpustakaan pusat milik kekhalifahan, terdapat jaringan sangat luas dari perpustakaan umum di banyak kota besar, dan koleksi buku-buku perpustakaan khusus yang sangat prestisius dimana menarik orang-orang berpendidikan dari pelbagai penjuru Dunia Islam (Z. Sardar and M.W. Davies: Distorted Imagination; op cit; pp. 101). Tertulis dalam perpustakaan Muslim Spanyol, dan dikutip oleh Scott :
"Perpustakaan tidak bisa disingkirkan dari salah satu faktor yang mengkrotibusikan pencerahan kepada publik dan pembentukan formasi karakter nasional. Tidak ada kota-kota yang besar dan penting tanpa ada paling tidak satu perpustakaan utama di dalamnya. Rak-rak perpustakaan terbuka untuk semua pemakainya. Katalog memfasilitasi eksaminasi koleksi dan klasifikasi dari pelbagai subjek. Banyak volume yang dihiasi dengan perhiasan yang menakjubkan dan sangat indah; dan yang paling berharga adalah volume dengan hiasan kulit dan aroma kayu yang menyegarkan; beberapa koleksi berharga lainnya bahkan dilapisi dengan emas dan perak. Di sini (perpustakaan) dapat kita temukan apa saja yang telah dipelajari di masa lalu dan penelitian yang tengah dilakukan serta penemuan-penemuan terbaru saat itu. Filosofi Yunani, astronomi Babilonia, sains Aleksandria serta hasil pengamatan panjang juga eksperiman dari atas menara observasi bintang dan laborotorium kota Cordoba serta Seville (Al-Muqaddasi, Shams Al-Din Mohammad Ibn Ahmad, Kitab Ahsan al-taqasim fi ma'rifat al-aqalim, edited by M.J. de Goeje, 1877, 2nd edition, 1906, p. 449).
Masjid adalah pusat dari aktivitas intelektual dan medium penyebaran buku. Di dalam masjid, selain menjadi tempat beribadah, penulis dan orang-orang berpendidikan menularkan apa yang telah mereka pelajari kepada anak-anak muda, tidak hanya pemuda dan pelajar tapi juga ilmuwan atau pekerja profesional biasa diterima di sini, dalam aktivitas ilmiah sudah menjadi kebiasaan bahwa semua orang, apapun dia, dapat ikut serta dalam diskusi (Z. Sardar and M.W. Davies: Distorted Imagination; op cit; pp. 97). Aktivitas intelektual yang demikian semakin mengembangkan penyebaran buku melalui masjid-masjid, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sardar dan Davies :
Ketika seorang penulis berkeinginan untuk menerbitikan karyanya, pertama-tama dia akan menulis catatan-catatan, dan kemudian menulis manuskrip asli (asl) yang pada awalnya disebut "draft" (muswadda). Walaupun bentuk muswadda sudah memiliki isi yang cukup mendalam namun kenyataanya belum bisa diterbitkan. Dalam kosa kata Arab, untuk menerbitkan, kata yang dipakai adalah kharajja berarti "melepaskan" (let (it) go out) atau "keluar" (Come out) atau "diterbitkan" (be published). Karena belum bisa diterbitkan, seorang penulis perlu untuk mempresentasikan karyanya kepada publik lebih dahulu, yang dilakukan di masjid dengan cara membacanya atau mendiktekannya.
Para ilmuwan biasanya akan mendiktekan banyak sekali karyanya di dalam masjid di mana masyarakat umum berkumpul untuk mendengarkan mereka dan profesional warraqs (ahli penyalin buku/manuskrip) akan mengubah apa yang telah didiktekan menjadi buku. Walaupun buku tersebut adalah buku pesanan yang dibayar khusus mereka tetap akan menerbitkan buku-bukunnya dengan cara yang seperti telah dijelaskan di atas. Seperti misalnya, al-Farra seorang ahli Filologi yang cukup dikenal pada abad ke sembilan, pernah diminta oleh salah seorang sahabatnya untuk menulis buku yang dapat membimbingnya dalam mengerti Al-Qur'an, sehingga sahabatnya itu tidak akan merasa malu bila ditanyakan satu atau dua hal mengenai apa yang ada di dalam Al-Qur'an oleh seorang Emir yang berhubungan erat dengannya. Al-Farra, yang tinggal di Baghdad, setuju untuk menuliskannya, juga mengumumkan untuk mendiktekan buku tersebut di masjid, dan dengan cara itulah buku tersebut diterbitkan (Z. Sardar and M.W. Davis: Distorted Imagination; op cit; pp. 98 ).
Salah satu peran utama Masjid lainnya adalah menjadi: perpustakaan. Salah satu tradisi yang mengesankan hidup di saat itu adalah kebiasaan mereka untuk menyumbangkan manuskrip dan buku-buku milik mereka kepada masjid, tidak hanya satu atau dua buku, namun terkadang sampai ribuan volume. Pedersen menjelaskan bahwa sejak awal masjid tidak hanya ditujukan semata untuk tempat ritual beibadah, namun juga sebagai sekolah dan tempat untuk belajar. Hingga sepertinya normal saja bila saat itu masyarakat Muslim memiliki kebiasaan untuk memberikan buku-buku kepada masjid. Hingga akhirnya dari sekian banyak buku-buku yang disumbangakan kepada masjid membentuk perpustakaan atau darul kutub disamping menjadi masjid itu sendiri. (J. Pedersen: The Arabic Book, op cit, p. 126 ). Sepanjang daerah yang dikuasai orang-orang Islam, dari Atlantik sampai Padang Pasir di Persia bahkan sejauh mata memandang. Muslim memandang masjid sebagai surga penyimpanan buku-buku mereka yang paling berharga sehingga dengan jumlah yang tidak kira-kira mereka dengan rela menyumbangkan buku. Di Al-Qayrawan, manuskrip-manuskrip dihadiahkan kepada para murid dari mereka yang mencari ridho Allah SWT, kebiasaan tersebut banyak direkam dalam banyak manuskrip. (M. Al-Rammah: The Ancient Library of Kairaouan and its methods of conservation, in The Conservationand preservation of Islamic manuscripts, Proceedings of the Third Conference of Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 1995, p. 32). Serupa dengan al-Zaidi yang membangun masjid dan perpustakaan yang namanya diambil dari milik pembangunnya, yakni al-Zaidi sendiri. Sebelum ajal menjemputnya al-Zaidi menyumbangkan semua koleksi miliknya kepada setiap murid dan pencari ilmu pengetahuan (Al-Hadarah (periodical) No 33, p. 8, quoted by G.Awad: Khawazin al-Kutub, p. 231 in A. Shalaby: History, op cit, p. 100.[19] M. Sibai: Mosque Libraries: An Historical Study: Mansell Publishing Limited: London and New York: 1987. p 92). Al-Jaburi melaporkan bahwa Naila Khatun, seorang janda kaya berasal dari Turki, mendirikan masjid untuk mengenang suaminya, Murad Afandi. Naila menempelkan masjid yang dibangunnya dengan madrasah dan perpustakaan, yang koleksinya dilaporkan berisi buku dan manuskrip berharga, semuanya ditanggung dari kantong Naila sendiri. Di Aleppo, perpustakaan masjid terbesar dan mungkin juga tertua yakni: Sufiya, terletak di Masjid Agung Kekhalifahan Umayyad. Memiliki jumlah koleksi yang sangat besar, dan sekitar 10.000 di antaranya disumbangkan oleh salah satu penguasanyanya yang sangat terkenal, Pangeran Sayf al-Dawla. Para ilmuwan mengikuti juga jejak yang serupa. Di Irak, Masjid Abu Hanifa memiliki perpustakaan yang menawan hasil dari sumbangan-sumbangan perpustakaan milik pribadi yang ada disekitarnya. Diantara penyumbangnya adalah seorang dokter, Yahia Ibn Jazla pada 493 Hijriah / 1099 Masehi, juga penulis sejarah al-Zamakhshari pada 538 Hijriah / 1143 Masehi. Al-Fasi mencatat pada 955 Hijirah / 1548 Masehi, seorang guru dari Qarawiyyin yakni Abu Adbdullah Muhhamad al-Ajmawi, menyumbangkan karya besarnya berjudul al-Qawl al-Mutabar kepada murid-murid di masjid (A al-Fasi: `Khizanat al Qarawiyyin wa nawadiruha,' Majallat Mahad al-Makhtutat al-Arabiya 5 (May 1959): 3-16. p. 9), dan Ibu Khaldun menyumbangkan kepada perpustakaan masjid yang sama kitab karya-nya berjudul al-Ibar, agar dapat dipinjamkan hanya kepada orang-orang yang dapat dipercaya selama dua bulan (W. Heffening; J.D. Pearson: maktba; Encyclopaedia of Islam, vol VI, pp. 197-200; at p. 199) . Tiga orang ilmuwan, salah satunya Yaqut, mendelegasikan koleksi buku dan manuskrip mereka sebagai wakaf kepada perpustakaan masjid (Ibn al-Imad: Shaderat al-dahab, v: 122, in A. Shalaby: History, op cit, p. 101). Kebiasaan ini biasanya dilakukan oleh para ilmuwan saat itu atas rasa syukur mereka terhadap perpustakaan masjid atas dukungan dan dukungannya.
Berdasarkan observasinya Mackensen menulis tentang kebiasaan memberi hadiah kepada perpustakaan masjid :
"Buku-buku dihadiahkan, dan banyak ilmuwan yang mempersembahkan koleksi perpustakaan pribadinya kepada masjid kotanya sebagai preservasi dan membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan memanfaatkanya hingga berkali-kali. Sehingga membesarlah universitas-universitas besar di Kordoba dan Toledo dimana menarik banyak minat baik Muslim maupun Orang Kristen dari seluruh dunia, hal yang serupa pula membesarkan al-Azhar di Kairo, yang setelah ribuan tahun masih menjadi lembaga pendidikan terkenal dalam Dunia Islam sampai saat ini. (R. Mackensen. "Background of the History of Muslim libraries", The American Journal of Semitic languages and literatures, 51 (January 1935), p 123).
Umumnya masjid-masjid memang memiliki perpustakaan tetapi kebanyakan perpustakaan yang mereka miliki cukup sederhana. Namun, beberapa lainnya memiliki koleksi yang sangat kaya termasuk koleksi langka dan tidak ternilai. Banyak karya ilmiah yang juga termasuk dalam koleksi untuk disimpan di dalam masjid, menurut Sibai karya-karya ilmiah tersebut adalah karena ekspresi rasa syukur para ilmuwan karena dijamin kehidupannya (secara materi) termasuk akomodasi gratis dan alat-alat tulis atau apa saja yang dibutuhkan dalam mereka menulis karya-karyanya. Benar, memang saat itu adalah hal yang biasa masjid menjadi tempat persinggahan dan berteduh ilmuwan yang sedang dalam berpergian. Al-Ghazali dan al-Baghdadi misalnya pernah tinggal dalam periode waktu tertentu di atas sebuah minaret (menara) Masjid Ummayad di Damaskus. Sementara, Ibnu al-Haytam kabarnya pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama di dalam kubah di atas salah satu pintu masuk utama Masjid Al-Azhar. Yaqut, misalnya, pada saat kematiannya di 627 Hijriah / 1229 Masehi mewariskan buku-buku milikinya sebagai wakaf kepada Masjid Zaydi beralamatkan di Jalan Dinar, Baghdad. Kisah yang sama juga dilakukan oleh al-Baghdadi. Masjid Al Aqsa di Palestina, tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah, memiliki empat buah perpustakaan. Masji Al-Aqsa Memiliki beberapa koleksi buku pada Madrasah Nahawiyya dan Ashrafyia, dan sebuah perpustakaan pada madsarah yang paling bergengsi; Madrasah Farisiyya. Disamping Masjid Al-Aqsa berdiri Masjid Umar yang dibangun ketika Khekhalifahan Umar Ibnu al-Khattab berkuasa (12-23 Hijriah / 634 – 644 Hijriah). Madrasah Farisiya berkembang pesat menjadi sebuah akademi yang penting untuk pendidikan agama dan para ilmuwan menimba ilmu termasuk juga koleksi buku yang sangat besar tersebar di dalam empat madrasah Masjid al-Aqsa. Salah satu madrasah yang cukup penting adalah Madrasah Nassiryia, didirikan oleh Nasir al-Maqdisi (505 Hijriah / 1111 Masehi) juga dikenal dengan Ghazzaliya sebagai penghargaan terhadap filsuf terkenal al-Ghazali. Al-Ghazali mengasingkan dirinya di Madrasah Nassiryia hingga menyelesaikan karya besarnya "Al-ihya ulum addin".
Masjid Ibnu Tulun di Kairo kuno, secara perlahan-lahan menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi di Kairo, dan Ibrahim mengamati bahwa perpustakaan di masjid ini menyimpan banyak karya terkenal yang berhubungan dengan kedokteran.
Khalifah Qarawiyyin di Fes memiliki tiga pepustakaan yang terpisah, yang paling terkenal adalah Perpustakaan Abu Inan juga dikenal dengan Perpustakaan Ilmya, yang mana bangunan aslinya sampai sekarang masih berdiri. Didirikan oleh Sultan kekhalifahan Merinid, al-Mutawakkil Abu Inan, pada 750 Hijriah / 1349 Masehi. Perpustakaan ini dapat diginakan oleh siapa saja, termasuk masyarakat biasa ataupun pelajar. Seorang pembaca buku yang bersemangat sekaligus kolektor, Sultan menyumbangkan buku-buku dan bermacam-macam benda untuk perpustakaan barunya termasuk di dalamnya subjek mengenai agama, sains, intelletualitas dan bahasa, Sultan juga menunjuk seorang pustakawan untuk mengurus segala sesuatunya atas perpustakaan tersebut. Kota Marokko lainnya juga memiliki perpustakaan dengan jumlah besar koleksi buku pada masjidnya. Pedersen merujuk pada manuskrip dengan jumlah yang sangat banyak ditemukan pada Masjid Zaytuna di Tunisia, Masjid Tlemcen di Aljazair dan Masjid Rabat di Marokko.
Perpustakaan Zaytuna di Tunisia, adalah yang paling kaya di antara lainnya. Memiliki beberapa bagian koleksi yang bila beberapa bagian itu dijumlah total semuanya akan mencapai ribuan koleksi. Saat itu kebanyakan pemimpin dari dinasti kekhalifahan Hafsid saling berkompetisi satu sama lainnya untuk menjadi pemimpin yang paling prestisius dalam merawat dan memperbesar koleksi buku pada perpustakaan Masjid; yang mana pernah pada suatu masa salah satu pimpinan mereka koleksi buku mencapai jumlah 100,000 volume.
Masih di Tunisia, di Al-Qayrawan tepatnya, masjid agungnya menyimpan warisan intektual terbaik bahkan terhebat dan juga kenangan dari para ilmuwan melalui bukku-buku dan dokumentasi yang mereka tulis dengan tangan ilmuwan itu sendiri, atau setidaknya tangan orang lain menulis buah fikir mereka. Koleksi manuskrip yang sangat kaya dan dikumpulkan pada Masjid Universitas al-Qayrawan memiliki usia setua masa Aghlabid (abad ke-9 Masehi). Dokumen-dokumen tersebut antara lain berisi tentang data kebudayaan unik mengenai kurikulum yang digunakan oleh masjid agung dalam pendidikannya saat itu. Koleksi-koleksi yang berada pada perpustakaan kuno Al-Qayrawan sebagian besar berbentuk parchment (medium untuk menulis yang terbuat dari kulit sapi atau domba), juga dikenal sebagai koleksi terbesar dan terbaik di sepanjang Dunia Islam Arab. Perpustakaan masjid juga memiliki koleksi saintifik dalam jumlah besar, dan manuskrip yang tidak pernah dibayangakan oleh kebanyakan manusia dapat mereka miliki. Nama Abdul Wahab ditemukan pada Perpustakaan Atika kota Qayrawan dalam buku Umam al-Qadima (Sejarah Bangsa-Bangsa Kuno) adalah terjemahan dalam Bahasa Arab dari tulisan Saint Gerome pada suatu masa sebelum kematiannya di 420 Masehi. Juga, pada beberapa Perpustakaan Masjid, Nama Abdul Wahab yang sama kembali muncul atas terjemahan dari Bahasa Latin karya Plyni (Gaius Plinius Secundus) seorang ahli botani pada zaman Romawi. Masjid Ahmad di Tanta (Mesir) memiliki koleksi manuskrip dengan 25 subjek berbeda antara lain di dalamnya terdapat subjek mengenai kedokteran, aritmatika, aljabar dan seni membuat warna dengan cairan-cairan tertentu.
Kota Zaytuna memiliki sebuah perpustakaan bernama al-Abdaliyah yang memiliki dalam jumlah besar koleksi manuskrip langka, tentu saja hal itu menarik banyak orang dari pelbagai lokasi untuk mempelajarinya. Ketika orang-orang Spanyol menaklukan Tunisia antara 940 dan 981 Hijirah / 1534 dan 1574 Masehi, mereka menjarah Masjid-Masjid dan perpustakaan di sana, serta mengambil banyak dari koleksi buku dan manusktip perpustakaan yang sangat berharga. Kekhalifahan Turki (Utsmaniyah) yang merebut kembali Tunisia dari tangan orang-orang Spanyol memperbaiki kembali bahkan juga memperbesar Masjid Zaytuna, perpustakaan dan juga madrasahnya. Usaha yang dilakukan oleh Kekhalifahan Utsmaniyah itu membuat Masjid Zaytuna kembali menjadi pusat kebudayaan Islam. Bangsawan Turki (Bey), Ahmad Pasha I, tidak hanya me-revitalisisasi Perpustakaan Ahmadiyya, dia juga mengorganisasi dan dengan baik hati mendukung pendidikan di Zaytuna, selain menyumbangkan dalam jumlah buku pada perpustakaan masjid. Ilmu baru diperkenalkan pada 1896 termasuk fisika, ekonomi politik dan Bahasa Prancis. Di Al-Zaytuna lah di mana beberapa tokoh kebudayaan Islam Arab dicetak, di antara mereka yang terkenal adalah Taufik al-Madani, dan tentu saja termasuk Abdul-Hamid Ibnu Badis sosok yang mengembalikan identitas Islam di Aljazair pada 1940an.
Para penguasa memiliki peran yang sangat penting dalam mensuply dan merawat perpustakaan semacam yang telah dibahas pada paragraf-paragraf sebelumnya, Al-Manstansiryyah dari Baghdad memiliki perpustakaan yang sangat kaya yang buku-bukunya dikumpulkan dari perpustakaan pribadi Kekhalifahan. Di Damaskus, Nuruddin Zangi memberikan koleksi buku-buku yang sangat banyak kepada perpustakaan-perpustakaan kota. Sementara di Kairo, al Qadi al-Fadil menghadiahkan sekolah dengan 100,000 volume buku dengan subjek yang beragam untuk kepentingan para muridnya. Di Maghrib, Abu Yaqub, pemimpin Almohad, menurut Deverdun: memiliki jiwa yang besar dan kecintaan yang amat sangat pada koleksi buku-buku, Abu Yaqub mendirikan perpustakaan yang besar yang dengan perlahan-lahan dipindahkan ke Kasbah (Aljazair), dan dijadikan perpustakaan umum dibawah manajemen ilmuwan Marokko. Di Spanyol, Reyes dari Tayfas, pangeran yang mensuksesi kekhalifahan Umayyad (awal abad ke-11), menjadi terkenal di antara perpustakaan di Saragossa, Granada, Toledo dan lokasi lainnya. Sekitar lima puluh tahun sebelumnya, pada wilayah yang sama Al-Hakam II (349-365 Hijriah / 961-976 Masehi) diperkirakan memiliki koleksi sekitar 400,000 sampai dengan 600,000 buku. Dia memperkerjakan para ahli salin dan penjilid buku serta mengirimkan para agen ke setiap propinsi untuk membeli dan mentranskrip buku-buku untuknya.
Selain perpustakaan masjid, pada zaman keemasan Islam, perpustakaan pribadi juga berkembang. Di bawah kekuasaan Almohad di Marokko pada abad ke-13 terdapat Maktaba Ibnu Tarawa yang terkenal, penulis sejarah amatir sekaligus penulis manuskrip; Maktaba al-Qaysi dan Maktaba Ibnu Assukur, pustakawan utama perpustakaan kerajaan, dibutuhkan lima onta penuh untuk mengangkut semua koleksi buku-bukunya. Khizanat Sabbur dibentuk pada abad ke-11 oleh Abu Nasir Sabbur bin Ardashir seorang menteri pemerintahan Buwwahyds di Bahgdad. Perpustakaan Khizanat Sabbur tercatat sebagai pusatnya orang-orang penting dan terpelajar yang diantara mereka diskusi seringkali diadakan. Diantara ilmuwan Islam, tidak ada yang tidak pernah membuahkan buku karyanya sendiri, Shalaby menyimpulkan bahwa jumlah perpustakaan pribadi yang ada saat itu sama dengan jumlah orang-orang yang terpelajar yang mencapai ribuan. Perpustakaan Ibnu al Mutran seorang ahli kedokteran memiliki, menurut Ibu Abi Usaybi'a, memiliki lebih dari 3,000 volume koleksi; dan memperkerjakan sekaligus tiga orang ahli salin. Juga di Baghdad pernah sebuah perpustakaan umum pada abad ke-9 membutuhkan 120 onta untuk memindahkan koleksinya dari satu tempat ke tempat yang lain.
Aspek lainnya yang juga mengagumkan dari perpustakaan islam adalah organisasi dan manajemen mereka; mengagumkan, juga karena saat ini tidak begitu banyak yang menerapkan. Baik perpustakaan umum maupun pribadi mengklasifikasi koleksinya dengan memberikan tempat yang berbeda-beda bahkan kadang-kadang ruangan khusus seperti yang dilakukan di perpustakaan-perpustakaan Baghdad. Perawatan yang luar biasa, menurut Olga Pinto, dilakukan karena perpustakaan tersebut diperuntukkan untuk umum. Beberapa perpustakaan, seperti yang ada di Shiraz, Cordoba dan Kairo diberikan struktur yang terpisah-pisah dengan banyak ruangan dan fungsi yang berbeda-beda; ruang galeri dengan rak-rak yang di dalamnya buku-buku tersimpan, ruangan di mana pengunjung dan belajar dan membaca, ruang untuk menyalin manuskrip, dan ruang untuk menjilid buku-buku serta banyak fungsi ruang lainnya. Terdapat katalog yang sangat akurat dari setiap koleksinya untuk membantu pembaca/pengunjung. Katalog yang dimaksud tidak seperti yang seperti kita lihat perpustakaan saat ini, namun terkumpul dalam sebuah buku atau lebih. Untuk satu perpustakaan pribadi saja saat itu membutuhkan 10 volume buku sebagai katalognya. Sementara di Andalusia (Spanyol) katalog yang mencakup koleksi di perpustakaan Al Hakam mencapai 44 volume. Isi dari setiap bagian pada rak buku juga didaftar pada secarik kertas dan merujuk pada laci di luarnya (mungkin ini yang lebih mirip dengan katalog manual dibanyak perpustakaan saat ini); berfungsi untuk menunjukkan koleksi yang tidak lengkap atau kurang lengkap pada beberapa bagian. Pengkalatogan manuskrip saat itu adalah hal yang normal, terutama pada perpustakaan besar dimana katalog dibutuhkan untuk memudahkan temu kembali serta memberikan kontrol pada pustakawan atas kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan. Mengutip buku al-Jawza oleh Ibnu al-Qadi, Al-Fasi menulis bahwa ketika Perpustakaan Kota Fez, Abu Inan, di dalam Masjid Qarawiyyin didirikan pada 750 hijriah / 1349 Masehi pendirinya, yakni Sultan al- Mutawakkil, menunjuk seorang pustakawan yang tugas pertamanya mencatat setiap koleksi yang ada di dalam perpustakaan. Selama penelitiannya di Masjid Qayrawan di Tunisia, Shabuh menggali sebuah katalog yang disusun pada 693 Hijriah / 1923 Masehi berisi dengan cukup detil mengenai apa-apa saja isi perpustakaan masjid. Sampai dengan 1370 Hijriah/ 1950 Masehi buku-buku koleksi perpustakaan Al-Azhar telah mencapai 120,000 volume dan dicatat di dalam enam puluh volume katalog dengan 3,500 halaman total. Sebuah manuskrip pada periode keemasan Islam besarnya tidak begitu berbeda dengan buku-buku saat ini, terbuat dari kertas berkualitas dengan tulisan di kedua sisinya dan sampul kulit.
Selain perpustakaan sebagai tempat mengakses buku, masyarakat saat itu dapat membeli buku pada toko buku setempat. Setiap toko buku normal memiliki beberapa ratus judul buku, namun toko buku yang besar memiliki lebih banyak lagi untuk dibeli. Pemilik toko buku yang cukup terkenal, Ibnu al-Nadim seorang bibliophile dan penjual buku, memiliki tempat lantai paling atas di bangunan yang cukup besar di mana pembeli datang untuk melihat manuskrip yang dijual, menikmati suasana dan bertukar ide.
Al-Fahrist, katalog buku-buku yang dijual oleh Ibnu Nadim (bisa didapatkan di dalam toko atau dimana saja yang dapat mengakses toko bukunya), mendaftar lebih dari enam puluh ribu judul dengan subjek yang sangat luas; bahasa dan kaligrafi, skrip Yahudi dan Kristiani, Al-Qur'an dan tafsirnya, linguistik, sejarah dan genealogi (studi tentang keturunan seseorang atau sekelompok keluarga), terbitan resmi pemerintahan (kekhalifahan), tata cara pengadilan, puisi-puisi Islam dan sebelum Islam, terbitan dari sekolah-sekolah Islam, biografi, fiksi populer, travel (India, China dan Indochina), sihir, subjek umum dan fabel. Bagian pertama dari bab pertamanya al-Fahrist dikhususkan pada berbagai macam gaya penulisan termasuk dengan huruf kanji (China), kualitas kertas buku ini sangat-sangat-sangat bagus sekali.
Masyarakat dapat juga meminjam buku-buku. Yaqut menyebutkan bahwa dia diperbolehkan meminjam tidak kurang dua ratus volume tanpa harus membayar semacam jaminan. Mungkin Yaqut adalah pengecualian dan sangat jarang terjadi, namun apa yang terjadi menunjukkan bagaimana hasrat yang luar biasa untuk dapat membaca buku-buku pasa masyarakat Islam di saat itu. Peminjaman buku biasanya harus sesuai peraturan dan perundang-undangan yang hampir sama dengan apa yang biasa diterapkan pada perpustakaan saat ini antara lain ; peminjam harus menjaga dengan sangat hati-hati koleksi yang mereka pinjam; dilarang mencoret-coret buku, bila menemui kesalahan tulis misalnya diharapkan untuk melaporkannya kepada pustakawan; serta mengembalikan buku paling lama sampai tanggal yang ditentukan. Perpustakaan masjid memiliki peraturannya sendiri dalam meminjamkan buku, tentu saja namanya saja menempel dengan masjid, namun yang membedakan dengan perpustakaan lain adalah di perpustakaan masjid anda dapat menemukan bagian khusus untuk pembacanya. Perpustakaan masjid yang besar secara khusus memberikan tempat yang nyaman bagi pemakainya tidak hanya untuk membaca namun juga untuk menulis. Ruangan tersebut didisain dengan cahaya yang memadai, ruang yang nyaman dengan karpet, mat dan matras duduk. Sultan al-Mutawakkil, lagi-lagi, bahkan memerintahkan untuk membangun sebuah tempat khusus untuk pembaca perpustakaan dinamakan `zawiyat qurra' yang dihiasi dengan perlengapan serta furnitur yang elegan.
Sudah menjadi kebiasaan untuk menunjuk seorang pustakawan dalam bertanggung-jawab dengan urusan perpustakaan. Tugas semacam ini hanya untuk orang-orang yang paling terpelajar untuk menjadi penanggung jawab perpustakaan. Manajemen perpustakaan almohand, menurut Ibnu Farhun, adalah salah satu posisi di pemerintahan yang sangat menguntungkan, yang diambil dari ilmuwan yang terbaik. Al Tazi, ditunjuk menjadi pustakawan yang mana dipilih dari antara orang terpelajar dan terbaik dalam masyarakat. Perpustakaan Masjid Agung Aleppo, Sufiya, memiliki Muhammad al-Qasarani sebagai pustakawannnya, al Qasarani adalah seorang pujangga dan memiliki pengetahuan yang mendalam pada sastra, geometri, aritmatika, dan astronomi. Orang-orang seperti ini, menurut Mackensen, sangat bangga dapat ditunjuk sebagai pustakawan. It speaks highly for the generosity of the patrons as well as for the really important work carried out in these libraries that men of marked ability in various fields felt it worth their while to undertake the duties of custodian.

Kesimpulan
Kecintaan Islam pada ilmu pengetahuan menaikkan posisi penulis dan ilmuwan, evolusi industri penerbitan adalah hasil dari kembangkitan Islam di masa lalu. Dalam seratus tahun setelah kebangkitan Islam, Industri buku yang terintegrasi dan sangat kompleks berkembang di dalam Dunia Islam. Tekhnik industri buku mengalami pengembangan dalam setiap tahapnya : komposisi, penyalinan, penambahan ilustrasi, penjilidan, penerbitan, penyimpanan dan penjulannya. Membaca buku atau sekaligus mendengar buku ketika sedang didiktekan menjadi salah satu pekerjaan yang sangat penting saat itu. Dalam beberapa kota besar seperti Baghdad dan Damaskus hampir setengah dari penduduknya terlibat dalam industri buku dan penerbitan. Bagaimanapun, produksi buku adalah industri sekaligus sebagai institusi, sebuah institusi dengan praktek dan kebiasaannya sendiri, memiliki kontrol penuh atas pemalsuan dan salah penterjemahaan, di atas itu semua, adalah institusi yang menjamin pendidikan dan buku bukan menjadi hak preogratif dari segelintir orang saja, namun terbuka untuk siapa saja yang berkeinginan maju. Institusi ini juga menjamin para ilmuwan dan pengarang buku secara ekonomi dan diakui nama mereka dalam karya-karya yang mereka telurkan.
Kebutuhan akan literatur yang tinggi dari populasi oang-orang yang sangat terpelajar, kemampuan menggandakan manuskrip, permintaan yang sangat banyak dari institusi pendidikan pada akhirnyalah yang menstimulis industri buku. Dalam dua ratus tahun sepemeninggalnya Rasulullah Sallahu 'Alaihi Wasallam Industri buku dapat ditemukan hampir pada setiap sudut Dunia Muslim. Memang, seluruh peradaban Islam berotasi di sekitar buku. Perpustakaan, baik itu milik kerajaan, umum, khusus maupun pribadi, menjadi hal yang sangat biasa; toko buku ditemukan hampir di mana saja dari yang kecil, menempel pada masjid, di pusat kota, pusat toko buku, bahkan sampai menyempil sendirian dalam sebuah pasar; dan tentu saja orang-orang yang terlibat di dalam industri buku (dari pengarang, penerjemah, penyalin buku, ahli tafsir, pustakawan sampai penjual buku juga kolektor) yang datang dari semua kelas di masyarakat, dengan berbagai kebangsaan dan etnis serta latar belakang, bersaing dalam arti yang positif dalam memproduksi dan mendistribusikan buku-buku.
Digunakannya kertas bukannya papirus atau kulit sapi dan domba (parchment) menjadikan buku-buku sangat murah. Pemakaian kertas juga akhirnya memberikan efek yang luarbiasa pada waktunya ketika pembuatan kertas diserap oleh barat. Orang-orang Eropa pada masa abad pertengahan masih menggunakan parchment, karena biayanya yang sangat mahal maka menimbulkan masalah ketika harus digandakan. Keuntungan lainnya akan kertas adalah, karena murahnya biaya produksi, penyebaran dan pergerakan yang demikian luasnya atas ilmu pengetahuan. Karena itu, sebagaimana yang Pedersen simpulkan, dengan memproduksi kertas dalam skala besar, orang-orang islam mencapai kemampuan yang sangat luar biasa yang tidak dapar dipandang sebelah mata tidak hanya dalam sejarah buku-buku di Dunia Islam namun seluruh dunia.

Foto 1 Ilustrasi al-Azhar, foto diambil dari library.wustle.edu
Foto 2 Gedung Perpustakaan saat ini, lokasi tidak diketahui diambil dari sini
Foto 3 The mosque of Touba, center of the Mouride brotherhood, of which President Wade is a member.  The picture is taken from outside a very important Islamic library and center of learning.