Firman Creation

Asalamualaikum...wr...wb sblmnya mohon maaf atas pembuatn blog ini,,,,dalam mengikuti perkmbangan apa salahnya kita belajar dan belajar. Buat semuanya saya harapkan keritik dan sarannya.

Pages

Q Ingin Pulang KepadaNYA


Segenggam kata, "jika bertanya padaku tentang cinta dan apa yang kamu ketahui tentang hal itu, maka jawab ku murni untuk jiwa kita" .hanya Tuhan lah yang tau.
Kata itu yang telah terucap olehnya, namun hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
WAKTU??? menurut q bukan waktu yang akan menjawab semua itu,,tp diri kita sendiri!!!
Kita yang menjalaninya!!! yakin, dan saling meyakinkan, menghargai dan saling menghargai, mengasihi dan saling mengasihi,,percaya dan saling percya. Itu semua pedoman untuk menjalani suatu hubungan.
Jika salah satu hilang apa yg akan terjadi??? inilah yg terjadi saat ini, mungkin pembaca tidak mengerti apa maksud semua ini.
Ada yang hilang darinya, dan semuanya terasa jelas. Jauh dan makin menjauh, seakan dia tidak pernah melihat kebelakang untuk melihat diri ini yang selalu menatapnya yang penuh harap dan keyakinan. Begitu cepat perubahan itu.
Mengingat hari2 sebelumnya, membicarakan hal2 serius untuk ke depanya, namun apa hasilnya?? Sia sia, hancur mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan.
Tidak mengerti apa yang terjadi, tidak percaya hal ini terjadi, semuanya bercampur aduk menjadi satu. kebencian, kesedihan, keputusasaan semua bercampur dalam hati. Hati ingin teriak sekeras kerasnya, ingin ungkapkan semuanya...Agar dia tau.
Mengingat semua ini, rasanya ingin mengatakan seuatu untuknya....Q ingin pulang kepadaNYA, Q ingin di sampingNYA agar q tenang utk selamnya....

Jalan mu sudah kau tempuh, untuk sebuah kebahgiaan bagimu.
Terimakasih karena kau telah menemaniku di jalan yang kita tempuh, kini biarkan q sendiri yang menelusuri jalan ini, walaupun tanpamu dan tanpa siapapun. Karena tujuanku hanya untuk kembali kepadaNYA. 

Untuk 10 januari, yang telah menemaniku dari february 09.

 
29 september 2011

Cinta Anak Remaja Islam

Cinta itu adalah anugerah dari Tuhan kepada semua mahluk ciptaannya. Tuhan menciptakan segala sesuatu itu berpasangan (lihat QS. Ar-rum:21) yaitu Lelaki dengan Perempuan dengan tujuan agar mereka saling mengisi kekurangan dan kelebihan di antara mereka yang pada akhirnya akan tumbuh Cinta dalam hati mereka. Cinta dapat membawa berkah kalau kita bisa mengarahkannya ke jalan yang selalu diridoi oleh Alloh SWT. Tapi cinta juga bisa membawa petaka, kalau cinta itu malah menjerumuskan kalian ke lembah kemaksiatan dan jauh dari norma-norma Agama Islam. Cinta dalam Islam dikenal juga dengan Al-Hubb (Suka, Senang, atau Tertarik).
Tapi kebanyakan dari para remaja terutama anak-anak sekolah, mereka umumnya takut membicarakan masalah “cinta.” Pada umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang “tabu” dan “haram” untuk dibicarakan. Oleh karena itu, mereka merasa kalau cinta penuh dengan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat kalau mencintai lawan jenis.
Lalu bagaimana agar Cinta itu bisa mengarahkan kita ke jalan yang diridoi oleh Alloh SWT? Buat anak-anak sekolahan seusia kalian, cinta boleh saja tumbuh dalam hati agar kalian mengenal gimana rasannya jatuh cinta. Namun, kalian harus tetap memiliki prinsip-prinsip hidup yang Islami. Misalnya, kalian boleh mencintai seseorang tapi tetap nggak boleh berpegangan tangan apalagi sampai melakukan hal yang melewati batas. Cinta cukup dirasakan dan diutarakan melalui surat, atau lewat jejaring social seperti facebook. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kalian inginkan di kemudian hari.
Tidak ada larangan dalam percintaan untuk anak sekolah seusia kalian, namun harus tetap berada di jalur Islam. Inilah yang dinamakan Cinta sesuai syariat Islam agar kalian memiliki sebuah kehormatan yang kalian junjung tinggi sehingga orang lain tidak sembarangan menilai diri kalian.
Berikut ada beberapa tips agar kalian bisa fokus di sekolah untuk menggapai cita-cita yang tinggi tanpa terganggu oleh adanya cinta:
  1. Cinta sewajarnya saja, jangan terlalu berlebihan, dan jangan sekali-kali menganggap bahwa cinta harus dilakukan dengan pacaran.
  2. Cinta boleh ada dalam hati kalian. Tapi kalian harus tetap meraih cita-cita. Caranya? Simpan dulu keinginan kalian untuk memikirkan soal cinta dengan rajin belajar dan beraktivitas yang positif untuk meraih cita-cita.
  3. Cinta tidak harus memiliki, jangan terlalu sering berduaan, sering berinteraksi dengan teman-teman yang memang tidak suka membicarakan soal pacaran.
  4. Jauhi pikiran-pikiran Cinta dalam diri kalian dengan sering beraktivitas positif misalnya mengkaji Islam dengan ikut pengajian.
  5. Kendalikan hawa nafsu, misalnya dengan banyak berpuasa.

Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan islam pada masa Rasulullah SAW.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan telah terjadi sejak Rasulullah mendakwahkan agama islam, wahyu pertamanya yaitu surat Al – alaq ayat 1 -5 bercerita tentang dasar – dasar ilmu pengetahuan, didalam wahyu tersebut terdapat perintah untuk membaca, Allah pun menegaskan bahwa hakikat ilmu datangnyadari Allah dan awalnya manusia tidak mengetahui apa – apa. Kata Iqra’pada ayat ke-1 surat Al- alaq memiliki makna yang beragam, seperti menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, membaca baik teks maupun bukan teks.

Pada masa rasulullah, ilmu pengetahuan lebih banyak berkembang dibidang ilmu-ilmu pokok tentang agama (ushuluddin), dan ilmu akhlak (moral). Akan tetapi ilmu – ilmu lainnya tetap berkembang walaupun tidak sepesat ilmu agama dan akhlak. Saat itu pun mulai terjadi proses pengkajian ilmu yang lebih sistematis, diantaranya dasar – dasar ilmu tafsir yang dikembangkan oleh para sahabat rasulullah.

Diantara ahli tafsir dimasa Rasulullah yaitu  khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Ka’ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-’Asy’ari dan Abdullah bin Zubair. Dan dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib r.a.

 Ibnu Abbas adalah anak paman Rasulullah SAW, sekaligus murid dari Rasulullah. Ia dikenal sebagai ahli bahasa/penterjemah Al-Qur’an. Dia adalah sahabat yang paling pandai/tahu tentang tafsir Al-Qur’an. Dia mempunyai biografi yang menunjukkan kebolehan ilmunya dan kedudukannya yang tinggi dalam hal penggalian secara mendalam tentang rahasia-rahasia Al-Qur’an.

Selain Ibnu Abbas, sahabat nabi yang termasuk ahli tafsir ialah Ibnu Mas’ud r.a. Ia adalah salah seorang yang pertama masuk Islam pada usia 6 tahun. Dari segi hubungan kenabian ia adalah seorang yang sangat baik dan terdidik. Karena pertimbangan itulah sahabat lain memandangnya sebagai seorang sahabat yang lebih banyak mengetahui bidang Kitabullah Al-Qur’an, mengetahui tentang muhkam dan mutasyabih, halal dan haram.

Selain para ahli tafsir, kaum yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman rasulullah yaitu kaum sufi (ahli ilmu). Kaum sufi yaitu kaum yang menyebarkan ajaran islam ke berbagai belahan dunia. Pada zaman rasulullah, mereka mempelajari al-Quran secara langsung dengan Rasulullah s.a.w. mereka adalah orang-orang yang menyediakan dirinya semata-mata untuk Allah s.w.t dan Rasul-Nya.

Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW. 
Pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:
Pertama
: al Jam’u fis Sudur
yaitu Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu.
Kedua
al Jam’u fis Suthur yaitu menyuruh para sahabat untuk menuliskannya kembali setelah dibacakan oleh Rasulullah. Biasanya sahabat menuliskan Al-Qur’an pada ar-Riqa’ (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan jumlah sahabat yang menulis Al-Qur’an waktu itu mencapai 40 orang.

Pada zaman Rasulullah
hadits tidak dituliskan sebab:
 a)  Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan beliau sebagai catatan pribadi.
 b) Rasulullah berada di tengah-tengah ummat Islam sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan pada waktu itu.
c) Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat terbatas.
d) Ummat Islam sedang dikonsentrasikan kepada al-Qur’an.
e) Kesibukan-kesibukan ummat Islam yang luar biasa dalam menghadapi perjuangan da’wah yang sangat penting.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah terus berkembang sampai sekarang, khususnya
dalam bidang ekonomi. Banyak teori tentang ilmu pengetahuan yang sudah ada sejak jaman Rasulullah dan digunakan didalam zaman yang modern seperti sekarang ini, diantaranya teori invisible hands yang berasal dari Nabi Saw dan sangat populer di kalangan ulama. Teori ini berasal dari hadits Nabi Saw. sebagaimana disampaikan oleh Anas RA, sehubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dalam hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut :
“Harga melambung pada zaman Rasulullah SAW. Orang-orang ketika itu mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: “ya Rasulullah hendaklah engkau menetukan harga”. Rasulullah SAW. berkata:”Sesungguhnya Allah-lah yang menetukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.”  
ucapan Nabi Saw itu mengandung pengertian bahwa harga pasar itu sesuai dengan kehendak Allah yang sunnatullah.

Tujuannya apa sih ? Ya, untuk membikin mereka paham tauhid. Kalau memang tauhid gak penting, buat apa Allah repot – repot mengutus banyak Nabi dan Rasul kepada mereka. Nah..., sudah taukan tentang pentingnya tauhid..., ayo kita teruskan membaca tulisan ini !
Makna Tauhid
Tauhid secara istilah adalah beriman dengan wujud Allah dan meng – Esakan – Nya dalam hal rububiyah ( perbuatan ) dan uluhiyah ( ibadah ) dan beriman dengan semua nama – nama dan sifat – sifat – Nya.1
Pembagian Tauhid
Asy Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan2hafidzahullah menyatakan ( dalam kitab beliau3 ),”Dan dibagilah ( tauhid ) menjadi tiga melalui hasil penelitian ( para ulama ) dari Kitabullah dan Sunnah RasulullahShallallahu `alaihi wasallam, dan ini adalah hasil penelitian dari mahdzab Ahlusunnah Wal Jamaah. Maka barangsiapa yang menambahkannya menjadi empat atau lima, hal tersebut adalah tambahan – tambahan belaka. Dan sesungguhnya para ulama telah membagi tauhid ini menjadi tiga pembagian dari Kitab ( Al Qur`an ) dan Sunnah. Semua ayat – ayat dari Al Qur`an dan As Sunnah tentang masalah aqidah, tidaklah lepas dari pembagian tauhid yang tiga ini.
1. Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dan meng – Esakan ( Allah ) dalam semua perbuatan – Nya, seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan.
2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah
    Uluhiyah bermakna ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan ( motif ) rasa cinta, rasa takut, dan rasa harap kepada – Nya, mentaati perintah – Nya dan menjauhi semua larangan – Nya.
    3. Tauhid Asma wa Ash Shifat adalah menetapkan semua ( nama dan sifat ) yang Allah telah tetapkan bagi diri – Nya sendiri atau nama dan sifat yang Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam tetapkan / kabarkan.
    (sekian perkataan Asy Syaikh Dr.Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah )
    Dalil – Dalil Pembagian Tauhid yang Tiga
    Sebagai penguat dari perkataan Asy Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah, kami akan mengutip sebuah contoh pendalilan tentang pembagian tauhid ini. Pendalilan tersebut berasal dari tulisan Asy Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin. Berikut kutipan tulisan beliau :
    ”Dan Allah Ta`ala telah menyebutkan dalam Kitab – Nya yang agung mengenai pembagian tauhid dalam banyak ayat. Dan salah satu firman – Nya ( mengenai pembagian tauhid yang tiga ) adalah dalam surat Al Fatihah.
    1. Alhamdulillahirobbil a`lamiin
    Pada lafadz lillahmengandung tauhid uluhiyah, dan lafadz robbil a`lamiin mengandung tauhid rububiyah
    2. Ar rohmaanirrahiim
    ( Pada ayat ini ) mengandung tauhid asma wa ash shifat
    3. Maalikiyaumiddiin
    ( Pada ayat ini ) mengandung tauhid rububiyah
    4. Iyyakana`budu waiyyaka nasta`iin
    ( Pada ayat ini ) mengandung tauhid uluhiyah
    Dan ada banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang pembagian tauhid ini dan penjelasannya pun cukup jelas. Selain itu, hal ini juga telah disebutkan oleh para ulama terdahulu dari umat islam dan semua madzab yang empat, seperti Hanifiyyah ( pengikut Imam Abu Hanifah rahimahullahu ), Malikiyyah ( pengikut Imam Malik rahimahullahu ), Syafi`iyyah ( pengikut Imam Syafi`i rahimahullahu ), dan Hanabilah ( pengikut Imam Ahmad bin Hanbalrahimahullahu ).”4
    Koreksi Bagi yang Mengingkari Pembagian Tauhid
    Sebagian pembaca mungkin ada yang menyatakan bahwa pembagian tauhid yang tiga ini adalah perkara baru yang diada – adakan dalam agama islam, karena tidak ada satu petunjukpun dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam mengenai pembagian tauhid tersebut. Bukankah agama ini telah sempurna dan semua syariat telah Nabi Muhammad jelaskan melalui hadist – hadistnya ? Hal ini juga pernah disampaikan kepada Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullahu. Berikut ini kami tampilkan cuplikan jawaban syaikh atas pernyataan tersebut :
    ”Dan seandainya metode ( pembagian tauhid ) yang telah kami tempuh ini adalah suatu metode yang aneh / ganjil, maka kami juga mengatakan bahwa sesungguhnya pembagian syarat – syarat sholat, rukun – rukunnya, kewajiban – kewajibannya, dan rukun – rukun haji, kewajiban – kewajibannya, larangan – larangannya, dan apa – apa yang menyebabkan menjadi wajibnya haji, semuanya adalah perkara baru yang diada – adakan dalam agama. Dan kami tidaklah mengatakan seperti itu ( ibadah kepada Allah dengan perkara baru ). Dan bahkan kami menyatakan bahwa ini adalah suatu pendekatan ilmu agama menuju ke suatu pengamalan ( ini hanyalah wasilah / sarana dan bukan tujuan ). Maka benarlah tanpa keraguan sedikitpun bahwa pembagian tauhid menjadi tiga serta disebutkan pula syarat – syaratnya, rukun – rukunnya, kewajiban – kewajibannya, perusak – perusaknya dalam ibadah, semuanya adalah boleh ( hukumnya ). Dan sesungguhnya ini termasuk dari perkara sarana dan pendekatan, dan membatasi sesuatu dalam rangka menuntut ilmu syar`i. Dan kami menyebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam sering menyebutkan pembatasan sesuatu dengan pembagian – pembagian, misalkan : Tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya ( lihat di Shohih Muslim Bab Zakat ) ; Ada tiga orang yang nanti pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah ( lihat di Shohih Muslim Bab Iman ).”5
    Sekian dulu artikel ini dan Insya Allah kami akan melanjutkan mengenai pembahasan dari macam – macam tauhid tersebut. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mengerti tauhid dan mau mengamalkan ilmu tauhid tersebut. Amin
    Penulis: Rizki Mula Saputra (Murid senior M. Abduh Tuasikal)
    Artikel www.remajaislam.com


    1 Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyyah, Asy Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin, halaman 19
    2 Beliau adalah salah satu ulama besar yang masih hidup hingga sekarang di negeri Saudi Arabia.
    3 At Ta`liqoot Al Mukhtasorot `ala matni Al Aqidah Ath Thohawiyyah, Asy Syaikh Dr. Sholeh Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, halaman 28
    4 Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyyah, Asy Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin, halaman 19 - 20
    5 Syarah Aqidah Ahlu As sunnah Wal Jama`ah, Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, halaman 15